Pengorganisasian Bahan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Sumber belajar (learning resources) adalah
semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan
oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara
terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar
atau mencapai kompetensi tertentu. Sumber belajar mencakup apa saja yang dapat
digunakan untuk membantu tiap orang untuk belajar dan menampilkan
kompetensinya. Degeng dalam (Mukhtar l. , 2012, p. 214) menyebutkan sumber
belajar mencakup semua sumber yang mungkin dapat dipergunakan oleh peserta
didik terjadi perilaku belajar. Dalam proses belajar komponen sumber belajar
itu mungkin dimanfaatkan secara tunggal atau secara kombinasi, baik sumber
belajar yang direncanakan maupun sumber belajar yang dimanfaatkan. Sumber
belejar memiliki fungsi:
1. Meningkatkan produktiuvitas pembelajaran
dengan jalan: a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan
waktu secara lebih baik dan b) mengurangi beban guru dalam menyajikan
informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah
belajar.
2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang
sifatnya lebih individual, dengan cara:
a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan b) memberikan
kesempatan bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap
pembelajaran dengan cara: a) perancangan program pembelajaran yang lebih
sistematis; dan b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh
penelitian.
4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan
jalan:a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; b) penyajian informasi dan
bahan secara lebih kongkrit.
5. Memungkinkan balajar secara seketika,
yaitu: a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan
abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; b) memberikan pengetahuan yang
sifatnya langsung.
6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang
lebih luas, dengan meyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.
Hamalik dalam (Arsyad, 2007, p. 15)
mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar
dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan
rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
terhadap peserta didik. Fungsi-fungsi diatas sekaligus menggambarkan tentang
alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian
hasil pembelajaran peserta didik. Belajar mengajar merupakan dua konsep yang
saling terkait dalam proses belajar dan mengajar dan efektivitasnya dapat
tercapai dengan memanfaatkan sumber pembelajaran. D. Eggen dkk. Dalam (Wahab A.
A. , 2012, hal. 58)mengatakan bahwa joyce and weil in their book model’s of
teaching (1972) popularized the nation of alternate teaching strategies for
different types of teaching goals. Pemilihan itu tentu didasarkan pada
bentuk-bentuk tujuan yang hendak dicapai. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan itu
khususnya dalam pengajaran IPS sumber pembelajaran amat bermanfaat khususnya
dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran IPS.
Pengetahuan konseptual atau substansial di
dalamnya akan melibatkan data, konsep-konsep, tema-tema dan
generalisasi-generalisasi. Dari sini berarti akan mengetahui tentang isi
pengetahuan tersebut. Sedangkan pengetahuan tentang proses-proses akan
melibatkan semacam nilai-nilai, model-model, dan metode-metode yang berhubungan
dengan belajar dari inquiri. Dari sini tampak, tentang bagaimana mengetahui isi
tersebut. Isi pengajaran mengacu kepada pesan yang akan dipelajari peserta
didik dalam proses belajar mengajar, berupa seperangkat kemampuan, dengan
aspek-aspek kognitif, afektif, ataupun psikomotorik (KAP).
Demi tercapainya tujuan pendidikan atau
pengajaran yang telah ditetapkan, guru harus menyiapkan isi pengajaran sebaik
mungkin. Peran utama guru dalam proses belajar dan pembelajaran meliputi
merencanakan, menyiapkan, menyelenggarakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar
dan pembelajaran (Gintings, 2010, p. 14) bahan pembelajaran ilmu pengetahuan
sosial hendaknya diolah sedemikian rupa sehingga tersusun secara sistematis
sehingga terlihat saling keterkaitan antara bahan yang satu dengan yang lain.
Guru harus dapat mengkaitkan tema tertentu dengan materi yang terdapat dalam
disiplin ilmu sosial. Sebagai contoh peserta didik membahas tentang banjir guru
dapat bertanya kepada peserta didik
dimana banjir terjadi, menggambar denah lokasi banjir, dibahas jumlah rumah
yang rusak, berapa kerugiannya, bagaimana sikap peserta didik terhadap korban
banjir, apa sebab terjadi banjir, bagaimana langkah selanjutnya, dapat juga
peserta didik diminta membuat cerita tentang pengalaman tentang banjir.
sumber/ referensi:
Rachmah, Huriyah. (2014). Pengembangan profesi pendidikan IPS. Bandung:
CV Alfabeta
Comments
Post a Comment