Pengertian, bentuk dan proses difusi




A. Pengertian Difusi
Perkembangan kebudayaan manusia yang cukup pesat terutama disebabkan oleh kemampuan semua masyarakat untuk meminjam unsur-unsur dari kebudayaan-kebudayaan lainnya dan menginkorporasikannya di dalam kebudayaannya sendiri. Transfer unsur-unsur kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya ini diberi istilah difusi (transfer of culture elements from one society to another). Jadi, Difusi adalah penyebaran unsur-unsur budaya dari suatu kelompok ke kelompok lainnya. Dan difusi berlangsung baik didalam masyarakat maupun antar masyarakat.
Sumbangan difusi kepada kemajuan umat manusia ada dua macam: pertama, mendorong kebudayaan sebagai keseluruhan. Dan kedua, memperkaya isi masing-masing kebudayaan sehingga dapat mendorong maju dengan pesat masyarakat-masyarakat yang mendukungnya. Kebudayaan sebagai keseluruhan dapat dipercepat perkembangannya, karena masing-masing masyarakat tidak perlu setiap kali mewujudkan invention sendiri.
Segi difusi yang terpenting adalah ialah: sumbangannya dalam memperkaya isi masing-masing kebudayaan (individual cultures). Dewasa ini tak ada kebudayaan yang unsur-unsurnya asli lebih dari 10%. Difusi terjadi apabila ada dua masyarakat atau kebudayaan saling bertemu. Prinsip-prinsip difusi yang telah diterima merata, dan dijadikan tolak ukur dari difusi itu sendiri. Pertama, masyarakat-masyarakat yang terdekat dari tempat asal penyebaran unsur-unsur kebudayaanlah yang pertama-tama akan menerima unsur-unsur yang disebarkan itu, dan baru kemudian masyarakat-masyarakat yang lebih jauh tempatnya atau yang kurang langsung kontaknya. Prinsip ini didasar kan atas kenyataan, bahwa difusi setiap unsur membutuhkan kontak dan waktu. Alphabet yang agaknya pertama kali didapat di semenanjung Sinai, diambil pertama kali oleh kelompok-kelompoknya, terus ke bangsa punisia, yang membawanya melalui jalan pelayaran kepada bangsa yunani dan romawi, yang untuk selanjutnya meneruskannya ke eropa barat. Skandinavia baru dimasukinya kurang lebih 2000 tahun sesudah saat penemuannya.
Kedua: ialah apa yang kita sebut marginal survival. Prinsip ini dapat di persamakan dengan apabila kita menjatuhkan di dalam air tenang. Gerakan pusat telah berhenti tetap gerakan di luarnya masih terus berlangsung, dan makin jauh dari pusat, makin besar saat berhentinya gerakan itu. Demikian pula sesuatu unsur kebudayaan, yang sudah dirubah pada tempat asalnya, kerap kali masih tetap dipertahankan di daerah-daerah batas penyebaran. Tetapi kita harus ingat pula bahwa contoh tentang gerakan didalam air sebenarnya pincang untuk melukis proses penyebaran yang sesungguhnya. Karena berjalannya gerakan dari pusat (pada penyebaran unsur-unsur kebudayan) tidak berlangsung sama teratur dan sama cepatnya, seperti gerakan dalam air yang setiap kali merupakan lingkaran teratur.
Sebagai contoh, Linton mengambil penyebaran penanaman jagung. Asalnya pokok dari bagian timur amelu menyebar ke lembah mississipi dan bagian timur amerika serikat; juga berakar dibagian barat-daya. Ditimur sampai New England, Dakota dan semenanjung Michigan; sedangkan di barat tidak sampai mencapai California selatan. Padahal daerah ini rapat hubungannya dengan bagian barat-daya, juga telah memperkembangkan penanaman jagung dengan pesat; malahan disuatu tempat telah pula di perkembangkan teknik-teknik untuk menanam jagung didalam keadaan setengah kering. Sebuah contoh lagi, orang-orang indian California( kecuali sedikit dibagian selatan) tidak mengambil oper teknik pembuatan tembikar, meskipun tempatnya berdekatan dengan daerah yang mengenal teknik yang tinggi dalam membuat tembikar, dan meskipun tembikarakan besar sekali gunanya bagi kehidupan sedenter sebagian suku-suku di California.
Dari contoh itu terang, bahwa suku-suku California tersebut tidak mengambil oper sistem peneneman jagung maupun pembuatan tembikar, meskipun selama paling sedikit 1500 tahun berdekatan dengan daerah-daerah yang mempraktekkan kedua macam sistem itu. Keengganan ini dengan sendirinya memeperlambat penyebaran unsur-unsur kebudayaan, meskipun difusi kedaerah-daerah lainnya tetap berjalan. Lagi pula daerah-daerah “disebelah sana” dari tempat yang enggan menerima unsur-unsur itu, akan terhambat atau terlambat menerimanya. Karena kadang-kadang ada halangan-halangan semacam itu, maka semua difusi berlangsung tidak sama cepatnya. Ada unsur yang lambat, ada yang cepat tersebarnya. Jagung dan tembakau termasuk cepat penyebarannya. Kedua-duanya berasal dari amerika serikat.
 Contoh, selanjutnya mengenai music jazz yang berawal dari kalangan pemusik kulit hitam New Orleans, kemudian menyebar ke kelompok-kelompok lain yang ada dalam masyarakat. Beberapa setelah itu jenis musik tersebut menyebar ke masyarakat lain, dan dewasa ini telah menyebar ke berbagai pelosok dunia.
Dari contoh-contoh tersebut, nyatalah juga bahwa pada difusi ada dua buah pihak:tidak saja ada donor, tetapi juga ada penerima. Kalau diperinci, maka difusi merangkum tiga macam proses yang dapat saling diperbedakan :
1.     Penghidangan sebuah unsur atau masuknya unsur-unsur kebudayaan yang baru kepada masyarakat;
2.     Penerimaan unsur itu oleh masyarakat; dan
3.     Integrasi dari pada unsur yang telah diterima ini kedalam kebudayaan yang telah ada.
Difusi terjadi manakala beberapa masyarakat saling berhubungan. Masyarakat juga dapat mengelakkan diri dari difusi dengan cara mengeluarkan larangan dilakukannya kontak dengan masyarakat lain. Jadi bilamana beberapa kebudayaan mengadakan kontak, maka pertukaran beberapa unsur kebudayaan tertentu pasti terjadi. Kebanyakan isi kebudayaan dari setiap kebudayaan kompleks diserap dari kebudayaan lain.
Difusi selalu merupakan proses dua arah. Unsur-unsur budaya tidak dapat menyerap tanpa adanya kontak tertentu antar manusia dan kontak tersebut selalu melahirkan difusi pada kedua belah pihak. Orang eropa menyebarkan kuda, senjata api, agama Kristen, minuman whiskey, dan penyakit cacar kepada orang indian sebagai imbalan jagung, kentang, tembakau, penyakit kelamin, dan perahu yang semuanya diserap dari orang indian. Akan tetapi, pertukaran tersebut seringkali tidak seimbang. Manakala terjadi kontak budaya antar dua masyarakat, maka pada umumnya masyarakat yang tingkat teknologinya lebih sederhanalah yang lebih banyak menyerap unsur budaya masyarakta lainnya. Kelompok sosial berstatus rendah biasanya menyerap lebih banyak unsur budaya dari kelompok berstatus tinggi, bukan sebaliknya. Para budak pada umumnya menyerap budaya para tuannya, sedang budaya para budak itu sendiri dilupakan atau disisihkan dengan sengaja.
Difusi merupakan suatu proses selektif. Sebuah kelompok menerima beberapa unsur budaya dari kelompok lainnya, dan pada saat bersamaan kelompok itu menolak unsur-unsur budaya dari kelompok lain tersebut. Kita menerima banyak jenis makanan indian, tetapi menolak agama indian. Orang-orang indian cepat menerima kuda orang kulit putih, tetapi tidak banyak orang indian yang mau menerima sapi orang kulit putih.

Difusi biasanya disertai dengan modifikasi tertentu terhadap unsur-unsur serapan. Sebagaimana yang telah disinggung terdahulu, setiap unsur budaya memiliki prinsip, bentuk, fungsi, dan makna. Salah satu atau bahkan semua segi tersebut dapat mengalami perubahan ketika suatu usur budaya diserap. Ketika orang-orang eropa menerima tembakau indian, mereka menghisapnya dengan menggunakan pipa yang mirip dengan pipa indian. Jadi, mereka tidak mengubah bentuk awalnya, tetapi menambah bentuk lain –cerutu, rokok batangan, tembakau kunyah, dan tembakau sedot(snuff). Dilain pihak, mereka mengubah fungsi dan maknanya. Orang-orang indian merokok tembakau sebagai ibadah keagamaan. Orang-orang eropa pada mulanya menghisapnya sebagai obat, dan kemudian sebagai alat untuk memperoleh kepuasan diri dan memperluas pergaulan. Bentuk luar dari agama Kristen lebih banyak diserap daripada fungsi dan maknanya.
B. Bentuk-bentuk Difusi
Salah satu bentuk difusi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang terjadi karena dibawa oleh kelompok-kelompok manusia yang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain di dunia. Hal ini terutama terjadi pada zaman prehistori, puluhan ribu tahun yang lalu, saat manusia yang hidup berburu pindah dari suatu tempat ke tempat lain yang jauh sekali, saat itulah unsur kebudayaan yang mereka punya juga ikut berpindah.
Penyebaran unsur-unsur kebudayaan tidak hanya terjadi ketika ada perpindahan dari suatu kelompok manusia dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga dapat terjadi karena adanya individu-individu tertentu yang membawa unsur kebudayaan itu hingga jauh sekali. Individu-individu yang dimaksud adalah golongan pedagang, pelaut, serta golongan para ahli agama. 5 Bentuk difusi yang lain lagi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang terjadi ketika individu-individu dari kelompok tertentu bertemu dengan individu-individu dari kelompok tetangga. Pertemuan-pertemuan antara kelompok-kelompok itu dapat berlangsung dengan 3 cara, yaitu :
1. Hubungan symbiotik
Hubungan symbiotic adalah hubungan di mana bentuk dari kebudayaan itu masing-masing hampir tidak berubah. Contohnya adalah di daerah pedalaman negara Kongo, Togo, dan Kamerun di Afrika Tengah dan Barat; ketika berlangsung kegiatan barter hasil berburu dan hasil hutan antara suku Afrika dan suku Negrito. Pada waktu itu, hubungan mereka terbatas hanya pada barter barang-barang itu saja, kebudayaan masing-masing suku tidak berubah.

2. Penetration pacifique (pemasukan secara damai)
Salah satu bentuk penetration pacifique adalah hubungan perdagangan. Hubungan perdagangan ini mempunyai akibat yang lebih jauh dibanding hubungan symbiotic. Unsur-unsur kebudayaan asing yang dibawa oleh pedagang masuk ke kebudayaan penemrima dengan tidak disengaja dan tanpa paksaan. Sebenarnya, pemasukan unsur-unsur asing oleh para penyiar agama itu juga dilakukan secara damai, tetapi hal itu dilakukan dengan sengaja, dan kadang-kadang dengan paksa.
3. Penetration violante (pemasukan secara kekerasan/tidak damai)
Pemasukan secara tidak damai ini terjadi pada hubungan yang disebabkan karena peperangan atau penaklukan. Penaklukan merupakan titik awal dari proses masuknya kebudayaan asing ke suatu tempat. Proses selanjutnya adalah penjajahan, di sinilah proses pemasukan unsur kebudayaan asing mulai berjalan.
Ada juga difusi yang disebut stimulus diffusion. Stimulus diffusion adalah proses difusi yang terjadi melalui suatu rangkaian pertemuan antara suatu deret suku-suku bangsa. Konsep stimulus diffusion juga kadang dipergunakan ketika ada suatu unsur kebudayaan yang dibawa ke dalam kebudayaan lain, di mana unsur itu mendorong (menstimulasi) terjadinya unsur-unsur kebudayaan yang dianggap 6 sebagai kebudayaan yang baru oleh warga penerima, walaupun gagasan awalnya berasal dari kebudayaan asing tersebut.
C.Proses Difusi
Proses difusi terbagi dua macam, yaitu:
1. Difusi langsung, jika unsur-unsur kebudayaan tersebut langsung menyebar dari suatu lingkup kebudayaan pemberi ke lingkup kebudayaan penerima.
2. Difusi tak langsung terjadi apabila unsur-unsur dari kebudayaan pemberi singgah dan berkembang dulu di suatu tempat untuk kemudian baru masuk ke lingkup kebudayaan penerima.
Difusi tak langsung dapat juga menimbulkan suatu bentuk difusi berangkai, jika unsur-unsur kebudayaan yang telah diterima oleh suatu lingkup kebudayaan kemudian menyebar lagi pada lingkup-lingkup kebudayaan lainnya secara berkesinambungan.
Referensi:
  1. Linton, Ralph, 1984. ANTROPOLOGI The Study Of Man, Bandung: Jemmars
  2. Tumanggor, Rusmin, 2010. ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
  3. Horton, Paul B, 1999. SOSIOLOGI, Jakarta: Penerbit Erlangga.
  4. https://wakuadratn.wordpress.com/2013/01/24/difusi-akulturasi-asimilasi-dan-inovasi-kebudayaan/
  5. http://rangkumanmateriips.blogspot.co.id/2014/09/pengertian-difusi.html

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu Negara Kestuan Republik Indonesia (NKRI)?

Pengertian Epistemologi

EMPAT POKOK PERSOALAN FILSAFAT