AGROINDUSTRI DESA SEBAGAI SEKTOR UTAMA PEMBANGUNAN DI INDONESIA
Agroindustri
adalah salah satu sektor utama pembangunan di Indonesia, karena itulah harus
ada cara mengoptimalkan hasil agraria diwilayah Indonesia khususnya di daerah
pedesaan. Daerah pedesaan sebagai daerah utama yang men-supply hasil
pertanian(beras) dan berbagai hasil perkebunan untuk daerah-daerah perkotaan di
Indonesia. Oleh karena itu sangatlah penting untuk melestarikan dan
mempertahankan serta terus mengembangkan sektor agraris di wilayah pedesaan.
Pembangunan
masyarakat desa menjadi penting pada saat ini, karena Indonesia adalah negara
agraris, mayoritas penduduk tinggal di desa, di mana kehidupan sosial dan
ekonominya tergantung pada usaha tani tradisional. Modernisasi pertanian perlu mendapat
prioritas untuk meningkatkan produksi pertanian dan kualitas hidup masyarakat
desa.
Pembangunan atau pengembangan pedesaan sangat di perlukan untuk Indonesia
karena sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu sebesar kurang lebih 60%, melakukan
pertanian sebagai mata pencaharian, dan mereka tinggal di pedesaan. Pembangunan
atau pengembangan pedesaan ('rural development),menurut Mosher
(Mosher, 1969, h. 91), dapat mempunyai tujuan: 1. Pertumbuhan sektor pertanian,
2. Integrasi nasional, yaitu membawa seluruh penduduk suatu negeri kedalam pola
utama kehidupan yang sesuai, 3. Keadilan ekonomi, yakni bagaimana pendapatan
itu dibagi - bagi kepada seluruh penduduk.
Menurut Fellmann
pengertian pembangunan atau pengembangan (Fellmann & Getis, 2003, h. 357)
adalah:
1. mengubah sumber
daya alam dan manusia suatu wilayah atau negeri sehingga berguna dalam produksi
barang
2.melaksanakan
pertumbuhan ekonomi, modernisasi, dan perbaikan, dalamtingkat produksi barang
(materi) dan konsumsi.
Tanpa
disadari, sejak lama kondisi pembangunan desa-kota kita menggambarkan konstruksi
mengenai tata hubungan ekonomi domestik yang timpang. Desa telah menjadi
komoditas empuk bagi penghisapan surplus ekonomi pusat-pusat pembangunan di
kota. Prospek ekonomi rakyat pedesaan sangat dikhawatirkan akan bertambah suram
pada masa yang akan datang, jika perilaku elit kekuasaan di seluruh tingkatan
tidak mengalami perubahan pola pikir pemihakan terhadap rakyat di desa. Dalam
tulisannya Arief (1995) mengemukakan bahwa urbanisasi penduduk dari sektor
pertanian di pedesaan berlangsung akibat adanya investasi dari sektor
manufaktur dan jasa yang selama ini masih terfokus di kota/pusat. Ketika
kegiatan di kota memberikan tawaran imbalan tinggi kepada penduduk desa yang
berpindah, sementara itulah sektor pertanian akan mengalami kelangkaan relatif
pekerja.
Seiring
dengan itu pula, interaksi antar aktor-aktor ekonomi, antar maupun intra
sektor, telah menambah keruh keadaan dengan adanya pengambilan keputusan
politik yang tidak berpihak kepada rakyat di desa. Sehingga, sektor pertanian,
dimana sebagian besar bangsa kita menggantungkan hidupnya, jauh dari perannya sebagai
pondasi pembangunan yang sesungguhnya. Dilain sisi, sektor manufaktur semakin
tidak memiliki linkage dengan sektor primer, yaitu pertanian.
Integrasi
antara konsep agroindustri dan pembangunan desa menjadi penting keterkaitannya
dalam penyediaan dan penyaluran sarana produksi, penyediaan dana dan investasi,
teknologi, serta dukungan sistem tataniaga dan perdagangan yang efektif.
Pengembangan
agroindustri pada dasarnya diharapkan selain memacu pertumbuhan tingkat
ekonomi, juga sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kesempatan kerja dan
pendapatan petani.
Wibowo
(1997) mengemukakan perlunya pengembangan agroindustri di pedesaan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip dasar diantaranya: (1) memacu keunggulan
kompetitif produk/komoditi serta komparatif setiap wilayah, (2) memacu
peningkatan kemampuan suberdaya manusia dan menumbuhkan agroindustri yang
sesuai dan mampu dilakukan di wilayah yang dikembangkan, (3) memperluas wilayah
sentra-sentra agribisnis komoditas unggulan yang nantinya akan berfungsi
sebagai penyandang bahan baku yang berkelanjutan, (4) memacu pertumbuhan
agribisnis wilayah dengan menghadirkan subsistem-subsistem agribisnis, (5)
menghadirkan berbagai sarana pendukung berkembangnya industri pedesaan.
Untuk
mengaktualisasikan secara optimal strategi tersebut di atas, perumusan
perencanaan pembangunan ekonomi pedesaan, perlu disesuaikan dengan
karakteristik
wilayah dan
ketersediaan teknologi tepat guna. Sehingga alokasi sumberdaya dan dana yang
terbatas dapat menghasilkan output yang optimal, yang pada gilirannya akan
berdampak positif terhadap pembangunan wilayah. Pengalaman yang sangat berharga
bagi kita selama ini menjelaskan bahwa program pembangunan desa kurang
terkoordinasi dalam suatu sistem yang baik dalam konteks sumberdaya maupun
secara fungsional seringkali kurang menjamin dalam tiga hal endurance (daya
tahan), integrity (keutuhan) dan continuity (kesinambungan).
Meskipun
penduduk di daerah pedesaan mayoritas bermatapencaharian sebagai petani, namun
tidak semua petani di daerah pedesaan memiliki lahan pertanian yang memadai.
Banyak diantara mereka memiliki lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar, yang disebut
dengan istilah petani gurem. Lebih ironis lagi, sebagian dari penduduk
di daerah pedesaan yang malah tidak memiliki lahan pertanian garapan sendiri.
Mereka berstatus sebagai petani penyewa,
penggarap atau sebagai buruh tani. Petani penyewa adalah para petani yang tidak
memiliki lahan pertanian garapan milik sendiri melainkan menyewa lahan
pertanian milik orang lain. Petani penggarap adalah para petani yang tidak
memiliki lahan pertanian garapan milik sendiri, melainkan menggarap lahan
pertanian milik orang lain dengan sistem bagi hasil atau lainnya. Buruh tani
adalah petani yang tidak memiliki lahan pertanian garapan milik sendiri
melainkan bekerja sebagai buruh yang menggarap lahan pertanian milik orang lain
dengan memperoleh upah atas pekerjaannya.
Kondisi tersebut
berpengaruh terhadap hidup dan penghidupan keluarga petani di daerah pedesaan.
Perekonomian masyarakat di daerah pedesaan yang kurang menguntungkan ini
mendorong penduduk daerah pedesaan untuk pindah dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan.
Keluarga petani terdorong untuk mencari sumber penghidupan yang lain di luar
desanya. Daerah yang banyak menjadi tujuan mereka adalah daerah perkotaan.
Mereka nekad keluar dari desanya untuk mencari pekerjaan dan mengadu nasib di
daerah perkotaan. Meskipun di daerah perkotaan mereka belum tentu memperoleh
pekerjaan yang lebih baik.
Modernisasi adalah
salah satu penyebab masyarakat desa berduyung-duyung beralih profesi dari
petani menjadi buruh pabrik, pegawai sipil, dan lain sebagainya yang menurut
mereka memiliki prestise yang lebih dari seorang buruh tani. Sehingga dapat kita ketahui semakin sempitnya lahan
untuk pertanian lahan-lahan pertanian ditimbun untuk membangun
bangunan/perumahan atau sejenisnya demi kepentingan pribadi.
Koentjaraningrat(1975)
menyebut modernisasi sebagai proses mengembangkan sikap mental berorientasi ke
masa depan, berhasrat mengeksploitasi lingkungan, menilai tinggi hasil karya
manusia, dan sikap lain yang sejenis.
Schoorl(1980)
menyebut modernisasi secara lebih rinci sebagai berikut:
a.
Perubahan yang
ada sebagai proses transformasi masyarakat dari masyarakat tradisional ke
modern;
b.
Sebagai
tumbuhnya industrialisasi seperti yang terjadi di barat;
c.
Sebagai
tumbuhnya ilmu pengetahuan;
d.
Sebagai usaha
mengejar ketinggalan dari Negara industri maju;
e.
Secara politis
merupakan proses bertambahnya pengaruh dan tugas birokrasi Negara, dan
bertambahnya ciri rasionalisme organisasi; dan
f.
Secara
sosiologis dan antropologis sebagai proses diferensiasi sosial dan pembesaran
skala.
Dapat disimpulkan apabila semakin sempitnya sektor
untuk mengembangkan sektor pertanian, maka Indonesia akan menjadi Negara yang
hanya bisa bergantung dari Negara asing, dan akhirnya kesejahteraan hanyalah
angan-angan.
DAFTAR PUSTAKA
· Muhpi, hanafiah ali, 2011, FENOMENA PEMBANGUNAN
DESA, Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
Jatinangor, Jawa Barat.
· Pasaribu, A.R, 2007, Karya Ilmiah, PEMBANGUNAN EKONOMI
PEDESAAN, Medan, http://perpustakaan.uhn.ac.id/adminarea/dataskripsi/Karya%20Ilmiah%20-%204.pdf.
· Kolopaking, Lala M, dkk, 2003, SOSIOLOGI UMUM, Bogor:
Pustaka Wirausaha Muda Bogor.
Comments
Post a Comment