Manusia cerdas dalam perspektif islam
Banyak
orang yang beranggapan bahwa orang yang cerdas itu adalah orang yang pandai
berbicara, ada juga yang mengatakan bahwa anak yang cerdas itu adalah anak yang
memiliki prestasi yang tinggi, ada pula yang beranggapan bahwa anak pintar itu
adalah anak yang memiliki titel dan lulusan dari sekolah terkenal, dan masih
banyak lagi ciri-ciri anak cerdas lainnya menurut perhitungan manusia.
Lalu
orang seperti apakah yang termasuk kategori cerdas? Dalam pandangan Islam seperti apakah
parameter cerdas itu? Gambarannya
seperti apa kriteria cerdas yang paling benar dan mampu mendatangkan ketenangan
dalam jiwa? Dan betulkah ciri-ciri
cerdas yang telah disebutkan di atas
akan mampu mencetak generasi yang kuat baik itu kuat jasmani maupun kuat
ruhani? Ada sebuah kisah menarik yang bisa kita jadikan renungan baik itu untuk
kita sendiri ataupun sebagai bahan renungan dan evalusi terhadap anak
kita. Kisahnya adalah sebagai berikut.
"Suatu
hari, Ibnu Umar Radhiyallahu‘Anhu sedang duduk bersama Rasulullah Shalallahu
’alaihi wa salam. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan anshor
kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Shalallahu ’alaihi wa salam,
lalu bertanya "Ya Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama
itu?’ Rasulullah kemudian menjawab, "Yang paling baik akhlaknya".
Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?".
Lalu Beliau menjawab, "Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang
paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling
cerdas." (Hadits Riwayat Ibnu Majah, Thabrani, dan AlHaitsamiy)
Dalam
hadits tersebut terdapat dua kesimpulan dalam menterjemahkan arti cerdas. Ciri orang yang cerdas sesuai kisah di atas
yaitu:
1.
Orang yang cerdas yaitu orang yang banyak mengingat kematian
“Setiap
yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan
kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah
kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya`ayat 35)
“Di
mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian
berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa`ayat 78)
Nah
ini adalah ciri pertama manusia yang cerdas yaitu mengingat kematian. Karena dengan mengingat kematian seseorang
akan berbuat dan bertindak dengan sebaik-baiknya termasuk juga anak-anak. Karena mati itu tidak mengenal usia dan tidak
mengenal tempat. Orang tua seharusnya
bisa saja meninggal terlebih dahulu, akan tetapi pada kenyataannya banyak juga
ajal menjemput saat masih usia anak-anak.
Oleh
karena itu pengenalan akan ilmu agama kepada anak-anak harus diperhatikan
dengan baik. Jangan hanya mengejar
kepentingan duniawi anak saja, akan tetapi kepentingan akherat juga harus
diajarkan kepada anak-anak sejak anak usia dini.
2.
Orang yang cerdas yaitu orang yang paling baik dalam mempersiapkan kematian
tersebut.
"Berbekallah,
dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai
orang-orang yang berakal." (QS.
Al-Baqarah ayat 197)
Hanya
kebaikan dan takwa yang bisa dijadikan bekal dalam mengarungi kehidupan setelah
kematian. Banyak hal yang bisa kita
latih kepada anak tentang kebaikan. Oleh
karena itu para orang tua hendaknya memberikan contoh dan teladan yang positif
kepada anak. Karena pada hakekatnya anak
hanyalah meniru apa yang dilihatnya dan didengarnya. Ajarkan kepada anak untuk berinfak, sedekah,
zakat, shalat, berempati dan hal-hal positif lainnya sehingga anak akan
terbiasa dengan hal tersebut.
Comments
Post a Comment