Kepercayaan Animisme dan Dinamisme



Kepercayaan masyarakat yang suka mistik adalah sisa-sisa pengaruh dari ajaran dinamisme yakni kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami semua benda. Animisme yakni kepercayaan  bahwa segala sesuatu mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia- kemudian ajaran Hindu (tentang roh dan dewadewi). (Media Muslim, 2007).
Kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan kepercayaan yang pertama kali ada dan di anut oleh masyarakat Indonesia sebelum datangnya agama, seperti agama hindu, budha, islam, Kristen dan agama lainnya yang ada di Indonesia pada saat ini. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa kepercayaan animisme dan dinamisme itu masih tertanam dalam diri sebagian masyarakat Indonesia, akan tetapi hanya terlihat secara abstrak atau transparan. Dalam realitanya kepercayaan tersebut masih dilakukan oleh sebagian masyarakat namun mereka juga menjalankan perintah agama. Perkembangan peradaban,mengakibatkan terjadinya perkembangan dari berbagai hal, salah satunya adalah perkembangan kepercayaan atau keyakinan, dan kepercayaan tersebut berkembang dan melahirkan yang namanya agama. Walaupun kepercayaan telah berganti nama menjadi agama, namun tetap memiliki makna yang sama.
Emile Durkheim menjelaskan mengenai agama dan animisme dalam bukunya “The Elementary Forms Of The Religious Life.”dengan kutipan sebagai berikut:
Hence it has been concluded that to discover the truly original form of the religious life, it is necessary to descend by analysis beyond these observable religions. to resolve them into their common and fundamental elements, and then to seek among these latter some one from which the others were derived. The other has spiritual beings as its object, spirits, souls, geniuses, demons, divinities properly so-called, animated and conscious agents like man, but distinguished from him, nevertheless, by the nature of their powers and especially by the peculiar characteristic that they do not affect the senses in the same way : ordinarily they are not visible to human eyes. This religion of spirits is called animism.[1]
Durkheim menyimpulkan untuk menemukan bentuk yang benar-benar asli dari kehidupan beragama, perlu untuk turun dengan analisis di atas agama-agama yang diamati, untuk menyelesaikan mereka menjadi elemen umum dan mendasar, dan kemudian mencari di antara kedua ini beberapa orang yang lain berasal. Manusia yang mempercayai objek, roh, jiwa, jenius, setan, dewa, animasi dan agen sadar seperti manusia, dengan sifat kekuasaan mereka dan terutama oleh karakteristik khas yang mereka punya dan tidak mempengaruhi indera dengan cara yang sama : biasanya mereka tidak terlihat mata manusia. Agama ini disebut animisme.
. Menurut Durkheim agama merupakan “a unified system of beliefe and practices relative to sacret things”, dan selanjutnya “that to say, things set apart and forbidden –belief and practices which unite into one single moral community called church all those who adhere to them”. Menurut Durkheim agama adalah berasal dari masyarakat itu sendiri, dan masyarakat sendiri yang menginterpretasikan tentang tuhan yang diyakini sesuai dengan idealismenya. Masyarakat selalu membedakan mengenai hal-hal yang dianggap sakral  dan hal-hal yang dianggap profane atau duniawi.
Dasar dari pendapat Durkheim adalah agama merupakan perwujudan dari collective consciousness (kesadaran kolektif) sekalipun selalu ada perwujudan-perwujudan lainnya. Menurut Durkheim, bahwa animisme dan fetishisme yang bersifat individualistik, tidak dapat menjelaskan agama sebagai sebuah fenomena sosial dan kelompok. Durkheim berkesimpulan bahwa bentuk-bentuk dasar agama meliputi:
  1. Pemisahan antara yang sakral (suci) dan yang profane (duniawi)
  2. Permulaan cerita-cerita tentang dewa;
  3. Macam-macam bentuk ritual.
Dalam karyanya itu juga ia memusatkan perhatian pada bentuk terakhir fakta sosial non material yakni agama. Temuannya adalah bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Masayarakatlah yang menentukan bahwa sesuatu itu bersifat sacral dan yang lainnya bersifat profan, khususnya dalam kasus yang disebut totemisme. Dalam agama primitive(totemisme) ini benda- benda seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang didewakan. Selanjutnya totemisme dilihat sebagai tipe khusus fakta sosial non material, sebagai sebentuk kesadaran kolektif. Akhirnya Durkheim menyimpulkan bahwa masyarakat dan agama(atau lebih umum lagi, kesatuan kolektif) adalah satu dan sama. Agama adalah cara masyarakat memeperlihatkan dirinya sendiri dalam bentuk fakta sosial non material. [2]

Referensi :
·  Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern edisi ketujuh. Jakarta: Kencana  Prenada Media   Group.
·  Durkheim, Emile. 1915. The Elementary Forms of the Religious Life. London: George Allen & Unwin LTD,Hollen street press.LTD.





[1] Emile Durkheim, The Elementary Forms of the Religious Life,(London:George Allen & Unwin LTD,Hollen street press.LTD,1915)hlm:48
[2] George Ritzer, Teori Sosiologi Modern edisi ketujuh,( Jakarta: Kencana Prenadamedia Group,2014),Hlm.26.

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu Negara Kestuan Republik Indonesia (NKRI)?

Pengertian Epistemologi

EMPAT POKOK PERSOALAN FILSAFAT