Hakikat Berpikir Ilmiah
Sebagai
makhluk hidup yang paling mulia, manusia dikaruniai kemampuan untuk mengetahui
diri dan alam sekitarnya. Melalui pengetahuan, manusia dapat mengatasi kendala
dan kebutuhan demi kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, tidak salah jika
Tuhan menyatakan manusialah yang memiliki peran sebagai wakil Tuhan di bumi
melalui penciptaan kebudayaan.
Proses
penciptaaan kebudayaan dan pengetahuan yang didapatkan oleh manusia di mulai
dari sebuah proses yang paling dasar, yakni kemampuan manusia untuk berpikir.
Meskipun sebenarnya hewan memiliki kemampuan yang sama dengan manusia dalam hal
berpikir, makhluk yang terakhir hanya dapat berpikir dengan kemampuan terbatas
pada insting dan demi kelangsungan hidupnya. Berbeda dengan hewan, manusia
dapat kesadaran manusia dalam proses berpikir melampaui diri dan kelangsungan
hidupnya, bahkan hingga menghadirkan kebudayaan dan peradaban yang menakjubkan.
Sesuatu yang nyata-nyata tidak dapat dilakukan oleh mahluk Tuhan yang lain.
Dalam
membahas pengetahuan ilmiah, kegiatan berpikir belum dapat dimasukkan sebagai
bagian dari kegiatan ilmiah, kecuali ia memenuhi beberapa persyaratan tertentu
yang disebut sebagai pola pikir. Berpikir dengan mendasarkan pada kerangka
pikir tertentu inilah yang disebut sebagai penalaran atau kegiatan
berpikir ilmiah. Dengan demikian, tidak semua kegiatan berpikir dapat
dikategorikan sebagai kegiatan berpikir ilmiah, begitu pula kegiatan penalaran
atau suatu berpikir ilmiah tidak sama dengan berpikir.
Sumber/refernsi:
Suaedi.
(2016). Pengantar filsafat ilmu. Bogor: IPB Press
Comments
Post a Comment